BAP, Cikarang – Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau seiring meningkatnya jumlah titik panas, meluasnya area yang terbakar, serta proyeksi musim kemarau yang lebih kering pada 2026.
Hingga awal Juni, 11 kabupaten dan kota di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran Riau Jim Gafur mengatakan, hanya Kabupaten Kuantan Singingi yang belum menetapkan status siaga darurat.
“Saat ini Pemprov Riau dan 11 pemerintah kabupaten/kota di Riau sudah menetapkan status siaga darurat karhutla.
Hanya tinggal satu daerah saja yang belum menetapkan yakni Kuansing (Kuantan Singingi),” kata Jim Gafur di Pekanbaru, Senin (1/6), kepada Antara.
Menurut dia, penetapan status tersebut penting untuk mempercepat koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, termasuk dalam penyaluran bantuan serta penanganan kebakaran di lapangan.
“Jika sudah menetapkan status, koordinasi dan pengiriman bantuan akan lebih mudah, sehingga penanganan karhutla juga akan lebih cepat.
Kami harapkan Kuansing juga segera menetapkan status,” ujarnya.
Peningkatan kewaspadaan tersebut dilakukan di tengah tren karhutla yang memburuk.
Dikutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup pada Sabtu (25/4), Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa hingga 23 April 2026, jumlah titik panas di Riau mencapai 840 titik, dengan 318 titik berkategori tingkat kepercayaan tinggi.
Angka tersebut meningkat enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Luas kebakaran juga mencapai 8.555 hektar atau naik sekitar 20 kali lipat dibandingkan 2025.
Saat memimpin apel kesiapsiagaan karhutla di Lapangan Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Pekanbaru, Hanif menegaskan pentingnya deteksi dini dan respons cepat terhadap setiap indikasi kebakaran.
“Saya tegaskan, pengendalian karhutla harus mengedepankan deteksi dini dan respons cepat.
Jangan menunggu api membesar. Begitu terdeteksi hotspot, harus langsung ditangani di lapangan. Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci utama,” tegas Hanif.
Sumber : https://www.cna.id/indonesia/karhutla-riau-hotspot-2026-47676





Ratna Reply
Menarik sekali. Saya jadi ingin tahu lebih banyak